
Kesempatan emas mengikuti event yang diadakan oleh National Geographic Society (NGS) tidak dapat dirasakan oleh semua orang. Sebanyak 17 National Geographic Explorers terpilih dari berbagai negara di Regional Asia-Pasifik diundang mengikuti retret dengan tujuan untuk menjalin kolaborasi dan koneksi yang diharapkan nantinya bersama-sama dapat membangun berbagai proyek atau kegiatan kolaborasi yang berdampak positif pada komunitas dan dunia. Selain itu, beberapa pelatihan terkait dengan storytelling dan mentoring terkait program-program dan alat NGS dan cara untuk memperoleh pendanaan proyek melalui dana hibah juga diberikan dalam retret ini.
Bagi Sandy, satu dari tiga perwakilan Explorers asal Indonesia ini bukan kali pertama baginya mengikuti event dari NGS. Sebelumnya, Sandy sudah pernah mengikuti sciencetelling bootcamp dan spotlight yang diadakan di Singapura tahun 2019 dan Pembentukan NatGeo Indonesia Hub pada tahun 2023 di Jakarta. ”Setiap kesempatan untuk mengikuti event NGS selalu membuat saya bersemangat karena bisa bertemu dengan banyak sekali orang-orang hebat dari seluruh dunia, bisa mendengarkan pengalamannya, belajar dari mereka, bahkan beberapa ajakan untuk kolaborasi datang dari mereka.”, ujar Sandy.

Dalam retret kali ini, kegiatannya bersifat santai, bahkan diharapkan agar setiap peserta dapat menikmati retret ini dengan berbagai kegiatan menyenangkan, datang ke berbagai tempat-tempat menarik di Jeju Island dan juga menikmati cafe @uio.fieldstation (find them on Instagram) sebagai venue utama yang hangat dan nyaman. Selama retret, para Explorers banyak sekali mendapatkan update-update yang berkembang di dalam komunitas NGS. Bahkan pergeseran model pendanaan yang akhirnya menghapus pendanaan early-career grant. NGS saat ini berfokus pada Meridian Project Grant, Explorer Community Funding, dan hibah-hibah independen yang disesuaikan dengan fokus dari donor tertentu.

Selain mentorship, Explorers diminta untuk melakukan spotlight storytelling, menceritakan proyek atau pengalaman mereka hanya dengan 3 slide foto dan durasi maksimal 3 menit. Sandy secara spesifik menceritakan proyeknya di dalam komunitas adat Dayak Iban yang menekankan bahwa ada pembelajaran yang diambil dari masyarakat adat di Indonesia terkait dengan makna ”konservasi” itu sendiri. Sebelum bertemu dan berinteraksi dengan masyarakat adat, Sandy memahami bahwa konservasi itu semata-mata menyelamatkan spesies flora dan fauna saja dari ancaman yang ditimbulkan oleh manusia. Setelah memahami masyarakat adat, pemahaman Sandy terkait konservasi berubah 180° yang juga menekankan pentingnya keberadaan masyarakat adat sebagai penjaga alam. Untuk itu semua pihak harus menjamin hak-hak masyarakat adat terkait ruang, wilayah, budaya dan tradisinya.

Retret tiga hari tersebut, kemudian ditutup dengan kontes memasak yang sangat menyenangkan. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan perlu untuk membuat masakan vegetarian dengan campuran bumbu khas dari negara asal Explorers. Yang menjadi tantangan di kontes memasak ini adalah memadukan berbagai rasa bumbu unik tersebut menjadi satu atau beberapa masakan baru. Setelahnya proses penilaian dilakukan oleh seluruh peserta dengan memilih masakan terbaik selain dari kelompoknya dan juga penilaian secara internal kelompok. Entah bagaimana, kelompok kami (Sandy, Youngrae, Rezvin dan Rohan) berhasil menjadi juara. Terima kasih yang sudah memberikan penilaian positif! Kontes memasak itu pun kemudian diakhiri dengan makan malam dan bercengkrama bersama sebelum kembali ke negaranya masing-masing keesokan harinya.
